Publik yang Terbayangkan 11 November, 2011
Posted by mth in perspektif teoritik, riset.Tags: komunikasi publik, partisipasi publik
2 comments
Kritik Atas Pelibatan Publik dalam Kebijakan Komunikasi di Indonesia
ABSTRAKSI
Kuantitas dan kualitas informasi dari pemerintah makin meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Melalui pengemasan informasi yang bisa menghasilkan atau menguatkan kompetensi, kegiatan komunikasi pemerintahan dirancang untuk mendorong adopsi persepsi tertentu dan keterlibatan publik dalam setiap kebijakan pemerintah. Dengan membawa masalah kebijakan ke akar rumput pemerintah berusaha memengaruhi semua partisipasi publik dalam proses kebijakan.
Dalam perumusan dan implementasi kebijakan publik di Indonesia, pelibatan publik pernah dimaknai dengan beragam kategori konsep antara lain penerangan, sosialisasi, penyebaran (diseminasi) informasi, konsultasi publik, dan komunikasi publik. Akan tetapi ada kecenderungan ketidakkonsistenan atas pendefinisian dan pelibatan publik dalam kebijakan komunikasi yang ada. Istilah publik, misalnya, dipergunakan silih-berganti dengan massa, rakyat, masyarakat umum, atau bahkan kerumunan, sehingga mendorong potensi manipulatif dan keberjarakan antara kebijakan dengan warga negara sebagai publik.
Artikel ini berupaya mengkritisi konsepsi dan konteks wacana pelibatan publik dalam kebijakan komunikasi di Indonesia termasuk interrelasi dengan program komunikasi institusi global atau negara donor. Analisis diarahkan untuk membedah konsistensi dan inkonsistensi konsep publik dan pelibatan publik dalam ranah publik, privat, dan masyarakat demokratis secara terpadu. Hasil diarahkan untuk menemukenali jalan tengah pelibatan publik yang bisa mengembangkan partisipasi warga bangsa dalam lingkup kontemporer.
Kata kunci: publik, partisipasi, kebijakan komunikasi.
(materi yang kami sampaikan dalam Konferensi Nasional Komunikasi Universitas Indonesia, Depok 9 November 2011)
Komodifikasi Demokrasi Kontemporer 30 Oktober, 2011
Posted by mth in Tak terkategori.add a comment
Demokrasi saat ini tidak bisa sederhana diterjemahkan sebagai “kekuasaan rakyat” yang merujuk pada sistem politik pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno[1]. Proliferasi teknologi komunikasi, agenda globalisasi dan kebebasan pers, telah membentuk demokrasi sebagai bagian dari agenda kapitalisme global, sebagai saudara kandung proyek globalisasi yang tengah berlangsung. Konteks demokrasi kontemporer didorong tiga dimensi penting, yaitu kebebasan sipil, kebebasan pers dan pemenuhan hak politik warga. Indikator ini merupakan dimensi penilaian demokrasi di setiap negara sebagaimana ditunjukkan oleh Freedom House (2011). Saat ini, posisi indeks demokrasi di Indonesia dalam aspek akomodasi hak politik warga dan kebebasan sipil dalam status yang bebas (Free). Skala indeks demokrasi pun sudah mendekati skala tertinggi (lihat tabel 1). (lagi…)
Peluang Kajian Keterbukaan Informasi Publik 23 Mei, 2011
Posted by mth in ide riset, riset.2 comments
Salah satu tema penting dalam perbincangan demokratisasi di Indonesia adalah keterbukaan informasi publik. Tujuan utama keterbukaan informasi di setiap negara adalah memastikan bahwa lembaga publik akan lebih akuntabel dan kredibel dengan menyediakan informasi dan dokumen sesuai permintaan publik (Bolton, 1996).
Mendel (2004) menyatakan bahwa membuka akses informasi merupakan kewajiban bagi pemerintah dan badan publik. Secara fundamental, sebuah informasi adalah milik publik, bukan milik pemerintah atau badan publik. Akan tetapi pemerintah memang harus menjaga keseimbangan antara menutup informasi dan kepentingan publik. Namun, bagaimanapun, kepentingan publik tetap harus didahulukan.
Regulasi yang berkaitan dengan kebebasan informasi atau lebih dikenal keterbukaan informasi publik di Indonesia akan selalu memuat hak setiap orang untuk memperoleh informasi, kewajiban badan publik menyediakan dan melayani permintaan informasi secara cepat dan tepat waktu, biaya ringan (proporsional), dan cara sederhana, adanya pengecualian informasi bersifat ketat dan terbatas, serta kewajiban badan publik untuk membenahi sistem dokumentasi dan pelayanan informasi (Mendel, 2008: 3-8). (lagi…)
Sebutan “Indonesia” yang Menyejukkan 23 Mei, 2011
Posted by mth in perspektif teoritik.Tags: Teori Akomodasi Komunikasi dalam konteks budaya
add a comment
Oleh: Leila Mona Ganiem
Orang-orang awam di Kuala Lumpur, Melaka dan Johor Bahru pada umumnya menyebut kita “Indon”. Di Johor Bahru, ada pelayan toko menyapa saya cik “Indon” dengan logat Jawa. Dengan jengkel dan suara agak membentak saya menjawab, “Hei, aku Indonesia, bukan Indon! Kamu orang Jawa, kan?” demikian kalimat yang ditulis disebuah situs jejaring sosial oleh seorang profesor yang baru pulang dari Malaysia.
“Indon” adalah potongan kata yang ditujukan untuk memanggil orang Indonesia di kalangan warga Malaysia. Dalam beberapa penelusuran, saya temukan konon dilekatkan dengan konotasi pelecehan, diartikan mirip “Preman”. Bahkan kadang digunakan sebagai teguran terhadap sikap buruk seseorang, misalnya ìMau jadi apa kamu nanti? Mau jadi indon?
Berbagai reaksi bermunculan atas status tersebut, hampir mencapai 100 tanggapan. Umumnya mengecam pelayan toko yang “sok Malaysian” itu, karena bersikap melecehkan anak bangsa sendiri. Ada juga reaksi yang mendoakan agar sang pelayan sadar akan jati dirinya.
Namun, ada hal mendasar yang kurang dielaborasi dari tanggapan yang ada, “Apakah motivasi sang pelayan memilih menggunakan kata “Indon”?” (lagi…)
Pengertian, Konsep dan Model Komunikasi 31 Oktober, 2010
Posted by mth in model, perspektif teoritik.add a comment
Willbur Schramm mengibaratkan komunikasi dengan kampung Bab elh-Dhra pada lebih kurang 5000 tahun silam. Tempat itu dikunjungi oleh setiap musafir karena kandungan air tawar yang dimiliki kampung itu. Demikian pula halnya komunikasi yang telah ditelaah dari berbagai perspektif ilmu (Rakhmat, 1985: 6-7).
Metode-metode dan model yang dikembangkan dalam ilmu komunikasi sebenarnya berasal dari sejumlah perspektif dan teori di luar khazanah disiplin komunikasi. Ada pendekatan struktural-fungsional yang diilhami ilmu sosiologi, teori sistem dan informasi dari matematika, perspektif mekanistis dari fisika, perspektif psikologis dari psikologi sosial, dan lain-lain. Proses ini merupakan hasil pengembangan ilmu komunikasi dari komponen filsafat epistemologi.
Model biasa dibangun agar membantu proses identifikasi, penggambaran atau kategorisasi komponen-komponen yang relevan dari suatu proses. Sebuah model dapat dikatakan sempurna, jika ia mampu memperlihatkan semua aspek yang mendukung terjadinya suatu proses. Misalnya, dapat menunjukkan keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya dalam suatu proses, dan keberadaannya dapat ditunjukkan secara nyata.
Definisi dan Manfaat
Model secara sederhana bisa dipahami sebagai representasi suatu fenomena, baik nyata maupun abstrak dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut. Sebagai suatu gambaran yang sistematis. sebuah model bisa menunjukkan berbagai aspek dari suatu proses.
Model komunikasi merupakan alat untuk menjelaskan atau untuk mempermudah penjelasan komunikasi. Dalam pandangan Sereno dan Mortensen (dalam Mulyana. 2001:121), suatu model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Oleh karena itu model bisa disebut sebagai gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori atau penyederhanaan teori. Fungsi model komunikasi paling tidak bisa melukiskan proses komunikasi, menunjukkan hubungan visual dan membantu dalam menemukan dan memperbaiki kendala komunikasi dalam perspektif teoritik.
Aubrey Fisher, mengatakan bahwa model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model. Model dapat dikatakan sebagai gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori. Dengan kata lain, model adalah teori yang lebih disederhanakan. (lagi…)