jump to navigation

PR di Indonesia: Peristiwa-peristiwa Penting 20 November, 2007

Posted by rumakom in sejarah.
trackback

Dunia PR mulai berkembang pesat di awal abad 20. Aktivitas praktisi PR mulai diperhitungkan dan dibutuhkan di negara-negara industri. Dalam pandangan Noeradi (2005: 35), sejarah PR di Indonesia mulai dikenalkan oleh para pendiri republik ini.

Ketika merumuskan konstitusi, ada banyak jurnalis atau wartawan yang menunggu kelanjutan peritiwa setelah proklamasi kemerdekaan sehari sebelumnya. Akhirnya pertemuan itu ditunda untuk memilih presiden dan wakil presiden pertama Indonesia dan diumumkan kepada para jurnalis yang ada. Itu, fase media relations yang penting. Ketika perang kemerdekaan, adalah Soedarpo Sastorsatomo yang mengelola media relations sebagai Menteri Penerangan. Ia mengelola media relations di dalam negeri hingga mendukung dipomasi di PBB, termasuk untuk mengemas citra Indonesia di luar negeri.

RRI juga disebut sebagai bagian dari aktivitas PR ketika mengeluarkan program siaran luar negeri, yang kini pemancarnya ada di kawasan Cimanggis, Depok,Jawa Barat. Ada pula upaya untuk membantu India dalam mengatasi kelaparan dalam Program Rice for India, sekalipun Indonesia belum memiliki surplus beras.

Istilah Purel
Setelah perang kemerdekaan, mulai berdatangan beberapa perusahaan minyak diantaranya Shell, Stanvac, Caltex. Sebagai perusahaan multinasional, mereka memiliki organ bernama PR. Sebut saja S. Maimoen, R Imam Sajono dan Soedarso yang di tahun 1950-an mulai dikenal sebagai PR Officer. Latar belakang mereka dari kalangan jurnalistik.

Tahun 1954, Garuda Indonesian Airways mulai mengembangkan unit PR. Di tahun 1955, Mabes Polri menjadi institusi pemerintah pertama yang memiliki unit PR. Kemudian diikuti oleh RRI. Sekalipun demikian, beberapa angkatan bersenjata juga memiliki unit informasi yang dibawa kontrol presiden waktu itu. Di tahun 60-an, istilah ”purel” sebagai akronim public relations makin populer digunakan ketimbang term kehumasan. 

Konsultan PR “Pertama”
Adalah PT Inscore Zecha yang dipimpin M. Alwi Dahlan tercatat sebagai konsultan PR pertama yang berdiri di Indonesia tahun 1972. Kebanyakan mereka mengelola kepentingan publisitas dalam bentuk iklan. Sejak tahun 1970, sekitar 20 tahun national Development Information Office mendukung pengelolalaan PR pemerintah RI untuk dunia internasional. 

Pendidikan PR
Universitas Padjajaran menjadi universitas pertama yang membuka Fakultas Public Relations di tahun 1964. Ibu Oemi Abdulrachman yang menjadi dekannya. Setelah itu, banyak berkembang pendidikan PR dalam bentuk program studi hingga pendidikan di tingkat diploma. Tanggal 15 Desember 1972 merupakan moment delarasi asosiasi PR Indonesia, Perhumas. ketika itu beberapa PRO perusahaan minyak dan konsultan serta akademisi termasuk Menteri Dalam Negeri menjadi anggota pendiri.

Asosiasi PR
Di tahun 1974 posisi unit PR dalam organisasi pemerintah sudah mulai dipegang pejabat eselon III. Beberapa tahun kemudian meningkat menjadi eselon II. Karena itulah di tahun 1974 ada Badan Koordinasi Humas (Bakohumas) yang diketuai Direktur Humas Pembangunan Menteri Penerangan (anda bisa membaca Sejarah Departemen Penerangan).
Dalam pertemuan di Kuala Lumpur, 26 Oktober 1977, Perhumas bersama asosiasi humas di negara-negara ASEAN bergabung dalam Federasi Organisasi PR ASEAN dan menggelar Kongres PR Asean pertama di tahun 1978 di Manila.
10 April 1987, Asosiasi Perusahaan PR Indonesia dibentuk. Kemudian, tanggal 11 November 2003, tercatat sebagai kelahiran PR Society Indonesia.

[dst]

Komentar»

1. rumakom - 20 November, 2007

Narasi ini lengkap mengenai hal ini pernah dimuat dalam Indonesia PR & Communications Directory terbitan PR Society Indonesia November 2005. Penulisnya Wisaksono Noeradi, konsultan PR yang mewawancarai beberapa para pakar dan praktisi PR dan Komunikasi. Narasinya dalam bahasa Inggris jika memang ingin naskah asli mohon merujuk dalam terbitan tersebut di atas karena ini adalah terjemahan bebas.

2. ali zaenal abidin - 8 Desember, 2007

nama saya ali zaenal,saya ingin bertanya..
contoh contoh perusahaan yang sedang mengalami krisis PR seperti apa?? dan perusahaan apa yang mengalami krisis PR pada tahun 2004,,bisa tolong beritahu deskripsinya???

3. mth - 12 Desember, 2007

coba anda searching kasus PT Newmont di internet, jika anda sempat ke UI ada salah satu lulusannya yang pernah mengkaji hal ini. Bisa juga ditemukan dalam beberapa milis kehumasan.
salam..

4. Ann Onymous - 13 Desember, 2007

saya adalah mahasiswa jurusan komunikasi. saya ingin membuat presentasi tentang perkembangan industri PR di Indonesia dan saya butuh referensi tentang ini. saya ingin bertanya kapan tepatnya PR mulai masuk atau mulai dikenal di Indonesia? Lalu apakah bisa dijelaskan secara detail bagaimana perkembangan PR di Indonesia. terima kasih.

5. ev - 20 Maret, 2008

artikel yang sangat menarik..
harusnya lebih banyak media yang mengangkat tentang duni public relations di indonesia…
and…
please dont say that HUMAS = PR
nope!!

6. auida - 28 Oktober, 2008

saya mahasiswi STIKOM ambil jurusan PR(Public Relations). Tolong bantu buat judul tentang transjakarta busway, saya mau angkat menjadi proposal skripsi saya.

7. buddy ace - 26 November, 2008

Mbak Audia, saya tak tahu persis persoalan apa yang ingin diteliti dalam rencana skripsi anda sekitar ‘TransJakarta Busway’.

Tapi setahu saya, sebagai penduduk Jakarta yang merasakan persis day by day, bagaimana perubahan lalu-lintas di jalan raya ibukota, meruabah pola sikap masyarakat dalam berkendara.

Perubahan pertama yang saya rasakan adalah terkejut, karena penyempitan lebar jalan, yang berakibat pada membengkaknya tingkat kemacetan.

Mara sudah pasti, bahkan kemarahan ini dialami oleh hampir semua masyarakat, kecuali, mungkin, segelintir para pejabat pemda yang membuat kebijakan jalur busway secara “mendadak”.

Jika itu titik permasalahannya, seandainya saya sedang membuat skripsi, maka judulnya adalah:

SOSIALISASI JALUR BUSWAY TANPA PERAN SERTA PUBLIC RELATIONS

8. herin priyono - 25 Februari, 2009

penawaran pelatihan,
kemitraan pendirian program sertifikasi ISO untuk PR

Proposal Pendirian Program Sertifikasi ISO utuk PR:

Aplikasi ISO untuk Public Relations:Sebuah Model Sertifikasi untuk Pengembangan PR Sebagai Elemen Strategic Tools

Pengantar Aplikasi
Profesi Public Relations, dan demikian juga profesi marketer, saat ini sudah bukan lagi urusan sebuah departemen PR atau marketing. Pada perusahaan modern sekarang, PR dan Marketing adalah tugas ”semua karyawan” karena sedemikian strategisnya fungsi kedua profesi ini. Sikap karyawan yang jelek di masyarakat adalah ”PR” yang jelek bagi perusahaan.
Kini setiap karyawan harus bisa menjadi PR dan Marketing yang baik bagi perusahaannya. Dalam hal ini, terlebih bagi ”PR-Officer” daerah kabupaten pemekaran, ormas dan Orpol, Pilkada, Pilgub, Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta keharusan bekerja dengan konsep Publik Relations ”paradigma baru” sudah menjadi keniscayaan.
Pertumbuhan masyarakat yang semakin kritis, akan sulit diakomodir jika korporat hanya mengandalkan sekedar kahlian PR Konvensional. Kampanye program dan target apapun, terutama yang mangandung muatan dan isu-isu terobosan yang menuntut edukasi dan awarness tinggi, ia harus memiliki pasukan PR dan Marketing (pemasar) yang mampu menembus berbagai dimensi internal dan eksternalitas perusahaan berbasiskan pendekatan ISO. Di sisi lain, bagi perusahaan yang produknya ingin masuk pasar global, meraih ISO merupakan satu keharusan.

Pengantar Program
Jika dilihat dari sudut internal korporat, ISO merupakan system Kendali mutu yang bekerja secara statistical untuk mencegah terjadinya cacat produk. Namun demikian meski pun dalam operasionalnya penuh dengan borang-borang statistikal, seratus persen manajemen ISO pada dasarnya tetap sebuah gerakan perubahan budaya perusahaan. Ia menyangkut sikap mental, cara berpikir, disiplin pengelolaan, kerja team work, dan kesabaran berbasis pengetahuan sistem ISO yang kuat.
Ia menyentuh soal karakter dan komitmen penuh para CEO dan seluruh lini manajemen, soal seni memenej SDM, soal kaizen, juga soal semangat untuk memuaskan pelanggan (customer sutisfaction) dan semangat produksi yang dipandu oleh kepentingan pelanggan (customer driven) yang proses pengakarannya (peng-internalisasinya) mutlak harus bekerja secara otonom dari dan dalam diri setiap individu anggota korporat.
Bagaimana hubungannya dengan Public Relations?
Hubungannya adalah kenyataan bahwa meski posisi PR sangat strategis berkaitan dengan sukses gagalnya meraih ISO ini, namun sayangnya terdapat missing link besar dalam proses-proses tersebut bahwa ilmu manajemen ISO (Total Quality Control) ini tidak ada dalam kurikulum prodi komunikasi dimana pendidikan PR berada. Menjadi pertanyaan besar di sini. Bagaimana para PR dapat mengelola dan mengendalikan seluruh proses dalam meraih ISO dengan efektif manakala para PR ini tak memahami ilmunya?
Penelitian membuktikan bahwa perusahaan yang menghadapi banyak kejadian cacat produk, akan mengalami kerugian besar. Kerugian tersebut berupa tersedotnya kembali laba yang diperoleh perusahaan sampai 40 persen lebih. Belum lagi biaya tak langsung atas rusaknya reputasi perusahaan karena banyak dikomplain di pikiran pembaca atas produk-produknya yang cacat.
Dalam konteks ini, PR yang tak memiliki wawasan yang cukup atas manajemen ISO, akan sama artinya dengan memaksa diri masuk dalam perangkap ranjau kegagalan perusahaan tanpa PR yang bersangkutan mampu memahami penyebabnya, alih-alih malah akan memperparah kegagalan perusahaan berupa datangnya berbagai efek komplikasi yang luas.
Hal yang paling krusial di sini adalah bagaimana cara meletakkan kedua ilmu tadi dalam “Adonan” yang pas hybrid sedemikian rupa sehingga “ilmu PR” dan kejurnalistikan di satu sisi dan disiplin Kendali Mutu Berkelanjutan dapat menjadi senjata yang efektif untuk mengelola perusahaan yang sedang menjalani ISO menuju wajah budaya barunya. Melihat “ilmu mutu” dari kacamata PR dan kemudian menyuguhkannya sebagai sajian jurnalistik adalah sebuah terminal tersendiri. Untuk itulah diperlukan proses sertifikasi khusus bertema: Aplikasi ISO untuk PR ini.

Karakter Hybrid Program ini
Instrumen PR, terutama jurnalistiknya, pada hakekatnya merupakan “tools” atau alat belaka. Ia alat untuk menghandle, baik perubahan perilaku (attitude) maupun paradigma berpikir-tindak seseorang: CEO, karyawan, mitra pemasok, customer dan bahkan lingkungan sosio kultural yang lebih luas.
Sedangkan manajemen ISO sebagai content, ia berupa: skill, manajemen proses-proses, ethos, model team work, prosedur, mekanisme pengembangan mutu berkelanjutan dsbnya, yang harus ”diisikan” ke otak orang –terutama CEO perusahaan— dan cara ”mengisi” ini notabene membutuhkan ketrampilan jurnalistik demi bisa mengendalikan para petinggi secara santun dan efektif.

PESAING: Nol, Ceruk Pasar dan Trend Setter
Pesaing untuk program ini tidak ada. Kita merupakan pelatak dasar keilmuan hybrida baru ini. Karakter ini yang menempatkan pendidikan ini sebagai program pencucian karakter para PR agar dia dapat menjadi pribadi yang otonom, Efektif sebagai penghandle (di depan bos dia menjadi orangnya pekerja, di depan pekerja dia mewakili perspektif boss) demi tercapainya kesalingpahaman antar anggota stakeholders perusahaan, dengan treatmen lintas bidang yang diformulasikan dengan berbagai simulasi khusus, menjadikan bidang ini akan sangat diminati orang dan sulit ditembus oleh pesaing.
Dunia perusahan sekarang memang membutuhkan PR yang memiliki otonomi-tercerahkan. Tengah-tengah antara inferior dan superior. Ia bukan sekedar PR yang tugasnya bikin press release dan melayani customer, tetapi PR sebagai ”sekjennya CEO” sebagai lini strategic tools. Mencetak karakter seperti ini tidak bisa dengan teknik sulapan-instan. Ia bisa terbentuk sebagai efek semata manakala dia (para PR) bisa menembus esensi hakekat manusia dalam perusahaan dari formatnya yang paling kompleks, kombinasi dengan berbagai formula khusus yang hybrid sedemikian rupa dan terutama ia harus belajar dari orang yang memang memiliki karakter khusus semacam itu.
Untuk ketiga hal inilah kurikulum “Aplikasi ISO untuk PR” ini kita disain.

PELUANG FORMAT KURIKULER
1. Sertifikasi ISO coPR (potensi peserta: PR-PR se Indonesia, baik di korporat swasta, BUMN, Perbankan, Pemda, Ormas, Orpol)
2. Mastering ISO (MisoPR) 2 tahun (potensi peserta: lulusan S1 Teknik Industri untuk manufactur, dan seluruh lulusan S1 Ilmu-ilmu Sosial dengan konsentrasi khusus/pilihan sesuai asal korporat/instansi)
3. Kursus reguler

Kurikulum
1. Hybrida Dasar: ISO dalam perspektif Komunikasi (Bagaimana Mengelolanya dalam Liputan Media Kehumasan)
 Manfat ISO: Studi Kasus Jepang, dari Pecundang Menjadi Penguasa Dunia
 ISO sebagai Kendali Statistik Mencapai Mutu Produk
 Dimensi Budaya proses-proses ISO
 Prinsip-prinsip Manajemen Mutu Terpadu

2. ISO Dalam Perspektif Manajemen Perubahan: Mengelola untuk Terobosan Keunggulan Organisasi/Produk (Bagaimana Menterjemahkannya dalam ”Politik Redaksional” Media Kehumasan)
 Peran Strategis Pemimpin Sebagai Pengawal dan Peletak Perubahan
 Dimulai dari Pelanggan Berakhir di Pelanggan (Customer Driven)
 Apa dan Bagaimana Kaizen Sebagai Sumber Keunggulan Produk
 Meraih Keterlibatan Orang-orang dan Team

3. ISO dalam Implementasi Tugas-tugas Jurnalisme Kehumasan
 Mengapa Menekankan Tugas Jurnalisme Kehumasan
 Mendisain Media Internal untuk Pengawalan Implementasi ISO
 Mengelola Konflik untuk Mencapai Terobosan
 Fokusing Isu Sebagai Langkah Asesmen
 Mengelola Media Kehumasan untuk Setiap Tahapan ISO
 Bergerak dari Badan Kendali Mutu Menjadi Total Kendali Mutu

Potensi Peserta Umum
1. Team Perusahaan, sebagai team redaksi majalah kehumasan terdiri dari: PR, divisi CSR, manajer-manajer lini, unit Kendali Mutu.
Perorangan, seperti: PR/CSR, sekretaris perusahaan
2. Partai Politik/Ormas: Dari Sekjen sampai humas-humas Parpol.
3. Perguruan Tinggi: Humas Universitas, humas fakultas
4. Pemda: Humas Pemda, Humas Departemen Teknis,

Lama Pendidikan
1. Sertifikasi (dalam proses perhitungan)
2. Dalam bentuk lokakarya 3 hari
3. Apresiasi Dasar (2 hari)
4. Modeling Media, target menghasilkan rancangan rubrikasi sesuai dengan karakter korporasi masing-masing (3 Bulan tiap akhir pekan)

FORMAT KERJASAMA YANG DIHARAPKAN
Proposal ini ditawarkan dalam format co-ownership antara Indonesia Marketing sebagai pengelola Akademik dan pihak investor sebagai penyandang dana, dengan share saham dari pendapatan bersih: investor (51%) – Indonesia Marketing (49%).

Herinpriyono@yahoo.com mobile 081390729207

9. jojo - 29 Maret, 2010

tolong donk caranya buat proposal penawaran sbagai konsult buat caleg????????????

10. guzti - 28 Mei, 2010

saya mau tanya ,,tokoh konsultan PR di indonesia saat ini siapa saja ,,

11. annymous - 30 Juni, 2010

saya mau bertanya bagaimana perkembangan konslutan PR dalam pemenangan pasangan di Pilkada?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: