jump to navigation

Memaksimalkan Peran PR di Masa Krisis 4 Desember, 2007

Posted by rumakom in public relations.
trackback

Kehadiran Public Relations (PR) bagi suatu instansi, organisasi, atau perusahaan memang dirasakan menjadi sebuah keharusan. Pelbagai kegiatan, peristiwa, bahkan kasus yang melibatkan kepentingan masyarakat semakin menuntut hadirnya pengelolaan public relations yang handal. Dalam kondisi dimana pemerintah dan masyarakat semakin terbuka serta kritis, faktor accountability  setiap organisasi pun selalu menjadi permasalahan utama penampilan citra organisasi.  Terlebih dalam situasi krisis peran PR menjadi sangat krusial. Peran PR dalam mencegah dan menanggulangi krisis sangatlah penting dan merupakan jawaban untuk pemecahan masalah yang ada.

Krisis dan Citra Perusahaan
Krisis di suatu perusahaan atau organisasi bisa jadi merupakan suatu kejadian yang mempunyai lingkup luas ke masyarakat. Contoh krisis yang sering muncul akhir-akhir ini adalah pemogokan karyawan, keluhan pelanggan, sampai terjadinya kasus tuntutan hukum ke perusahaan atau pihak manajemen.   Jika krisis yang terjadi tidak segera ditanggulangi maka dapat melahirkan krisis baru, sehingga terjadi “multiplikasi krisis”. Rangkaian krisis ini menjadi “mega krisis” besar yang kompleks dan multidimensional, termasuk krisis komunikasi.

Menurut Wilbur Schramm pada saat krisis terjadi ada beberapa ganjalan yang mencolok. Pertama , arus informasi mengalami peningkatan luar biasa dari arus informasi “dari” maupun “ke” titik krisis tersebut. Kedua, sistem komunikasi goncang-kehilangan keseimbangan  kemudian diikuti munculnya langkah-langkah pemulihan keseimbangan, dan akhirnya pemulihan keseimbangan fungsi sistem pada tingkat keseimbangan baru. Ketiga, kandungan emosi dalam komunikasi krisis sangat mencolok. Keempat, terjadinya “jalinan” antara jaringan komunikasi antar pribadi dan komunikasi media dan kelima, keterkaitan manusia pada media komunikasi massa mengalami lonjakan besar untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan akan informasi.

Pada dasarnya krisis adalah suatu kejadian, dugaan, atau keadaan yang mengancam keutuhan, reputasi, atau keberlangsungan individu, organisasi atau pemerintahan. Hal tersebut mengancam rasa aman, kelayakan dan nilai-nilai sosial publik, bersifat merusak baik secara aktual maupun potensial pada organisasi, dimana organisasi itu sendiri tidak dapat segera menyelesaikannya. 

Disinilah sesungguhnya Public Relations (PR) berperan dalam upaya memantau trends, kejadian, isu yang dapat timbul dan mengganggu hubungan antara perusahaan dengan masyarakat.  Demikian juga pada waktu situasi krisis telah selesai ditanggulangi, PR berperan memperbaiki hubungan dan posisi dimata masyarakat secara umum dan kelompok kepentingan secara khusus. Ini dapat dilakukan dengan cara melakukan pertemuan dengan pers/media massa dan melanjutkan strategi komunikasi.

Strategi yang dimaksud ditujukan untuk menumbuhkan saling pengertian antara kedua belah pihak, antara perusahaan dengan  masyarakat hingga terbentuk citra sosial, yang pada gilirannya membentuk citra korporsi atau organisasi  di mata pihak luar (Siregar & Pasaribu, 2000).

Kendala Kinerja PR
Namun permasalahannya tak banyak organisasi atau perusahan yang benar-benar memanfaatkan PR secara efektif, karena belum seragamnya persepsi tentang posisi, fungsi dan peran PR dalam perusahaan. Manajemen perusahaan yang ada PRnya cenderung melihat PR sebagai lembaga reaktif belaka. Artinya PR baru dirasakan kepentingannya  kalau ada masalah dengan masyarakat, sehingga PR difungsikan sebagai sekedar sebagai lembaga siaran pers belaka. Selain itu PR belum sepenuhnya dipandang sebagai keharusan dalam fungsi manejemen, melainkan sebagai pelengkap semata-mata.
Hal tersebut tercermin pada ketiadaan (PR Planning) atau Perencanaan Krisis (Crisis Planning) . Anggaran belanja atau (strategi keuangan) tidak mau menerima atau bahkan tidak memadai buat strategi komunikasi PR . Hal ini disebabkan karena acap kali biaya untuk penanganan krisis (crisis planning) ini karena dianggap pengeluaran (cost) tidak dianggap sebagai investasi.

Belum  lagi penempatan PR dalam posisi yang kurang atau tidak punya akses langsung pada pimpinan perusahaan. Persoalan yang lain kekurang sadaran bahwa masalah citra bukanlah tanggung jawab PR semata, melainkan tanggung jawab semua individu anggota perusahaan.

Untuk itulah perlu diadakan perubahan secara mendasar dalam kinerja manajemen perusahaan berkaitan dengan aktivitas PR sehingga PR dapat menjalankan fungsinya secara maksimal.

dstanti

About these ads

Komentar»

1. dindy - 8 Mei, 2008

Selamat siang.Nama saya adalah dindy,mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran jurusan humas.Saat ini,saya sangat mengikuti kenaikan harga BBM yg katanya disebabkan oleh naiknya harga minyak dunia.

Mungkin karena ilmu humas saya yang masih dangkal,saya memandang permasalahan ini sebagai sebuah labirin,dimana semua pihak tidak mau disalahkan:Pemerintah dgn dalih upaya menyelamatkan sektor finansial akibat kenaikan harga minyak dunia.Produsen minyak dgn dalih mengikuti peraturan yg ditetapkan pemerintah.

Kenaikan harga BBM yg disertai dgn kelangkaan bahan bakar dan unjukrasa,hal ini membuat saya bertanya apakah dalam permasalahan ini PR kedua belah pihak sudah menjalankan fungsinya atau belum?

Pemerintah dgn one way communication tidak digubris masyarakat.Produsen minyak seperti tidak bereaksi menanggapi permasalahan ini,padahal permasalahan ini merupakan bagian dari community relations yang harus direspon secepatnya.

Kalau Anda tidak keberatan,dapatkah Anda membagi ilmu kepada saya,tentang management crisis yang harus dilakukan para produsen minyak itu? apakah dengan special event? atau forum dialog? kira2 apa yg seharusnya mereka rencanakan (planning)?

2. yuda - 16 Februari, 2009

assalamulaikum,
nama saya yuda, mahasiswa pasca sarjana upi jurusan manajemen bisnis. Boleh minta haring ga’ tentang peran PR dalam perguruan tinggi negeri yang telah telah berubah dari universitas BHMN menjadi BHP.
pa lagi saya kul di Universitas pendidikan Indonesia bandung yang notabene selalu mengacu semua disiplin ilmunya ke arah pendidikan. dengar kabar sih UPI kurang jalan sih PR nya,sedangkan saya pikir PR merupakan jalan untuk mengubah ke arah persaingan global.sedangkan masih banyak sistem yang dipakai adlah sistem konvesional.apa mungkin PR nya kurang jalan atau harus banyak sosialisasi pada publik ya?
pertanyaan saya bagaimana cara PR untuk meningkatkan citra UPI dalam konteks kerjasama internasional atau standar internasional?

3. fika - 28 Februari, 2009

saya fika, saat ini saya sedang mengerjakan tugas akhir yang mengulas tentang peran humas di dalam perguruan tinggi khususnya dalam melakukan manajemen krisis pasca pengesahan RUU BHP. bisa bantu ga, kira kira bagaimana peran PR dalam melakukan manajemen krisis tersebut?

4. dayat - 15 April, 2009

selamat siang,,,
Saya dayat, saat ini saya bekerja dalam bidang comdev di salah satu perusahaan perkebunan sawit. karena project ini baru maka sangat diperlukan bangunan opini positif perusahaan ditingkat ekternal,kira2 bisakah membantu saya mengenai cara2 membangun opini positif yg baik dan strategi dalam menghindari dan menyelessaikan konflik dari sisi ekternal relations nya? thanks..

5. etthy maria - 23 Maret, 2011

saya ety saya ingin mencari tugas kliping yang berhubungan dengan masalah humas yang menyangkut informasi merupakan hasil pekerjaan humas.bisa bantu ga,bgaimana masalahnya?tks..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: