jump to navigation

Studi Kasus dalam Public Relations 4 Februari, 2008

Posted by rumakom in perspektif teoritik, public relations.
68 comments

Dalam  studi  atau penelitian tentang kehumasan dan organiasi ,  terutama  di Amerika Serikat, Toth (1992) mengemukakan adanya tiga  pendekatan yang  cukup menonjol, yakni pendekatan rhetorik  atau  rhetorical approach, pendekatan sistem atau systems approach dan  pendekatan kritis atau critical approach.

Kadang  pendekatan  retorik dan pendekatan  kritik  dianggap sama,  namun  ada juga yang melihatnya  sebagai  pendekatan  yang berbeda.  Pendekatan  rhetorik melihat humas sebagai alat  yang  dipergunakan  oleh  organisasi  untuk  membujuk  atau mempersuasi  pihak-pihak lain yang berkepentingan  yang  dihadapi organisasi.  Titik perhatiannya terletak pada  penggunaan  wacana atau discourse   untuk   membujuk  kalangan   pihak   berkepentingan atau stakeholders.

Dalam batasan ini, humas  tidak  lain daripada  sebuah  bentuk retorik yang  dengannya,  orang  secara pribadi  maupun  atas  nama perusahaan  mempengaruhi  pendapat,  membentuk saling pemahaman, penilaian dan juga sikap. Untuk  itu, ia  memandang  retorik sangat penting  dalam  masyarakat  karena melalui  retorikalah, pendapat, pengertian dan  penilaian  dapat dibentuk dan tindakan dapat diambil.

Telaah  dari pendekatan retorik dalam  penelitian-penelitian humas mengamati  isi  atau  contents  dari  berbagai komunikasi  yang  dilakukan oleh organisasi. Bentuknya  bisa  isi pidato, isi penerbitan-penerbitan internal, press release, maupun isi  komunikasi melalui media audio visual serta  isi  komunikasi bentuk lain seperti yang diliput oleh media massa.
Sementara pendekatan  kritis tertumpu pada ekonomi politik.  Pendekatan ini   humas dilihat   dalam   hubungannya   dengan kepentingan  siapa  yang  sedang dilayani  oleh  praktisi  humas atau komunikasi korporat. (lagi…)

Analisis Jaringan Sosial 4 Februari, 2008

Posted by rumakom in perspektif teoritik.
20 comments

Komunikasi dalam sosialisasi pernah dipandang  sebagai transfer informasi dari pengirim kepada penerima. Namun saat ini komunikasi dianggap sebagai berbagai informasi. Perubahan ini membawa akibat pada pemusatan perhatian analisis  komunikasi  kepada hubungan antar  individu  yang   menunjukkan lingkaran pergaulan langsung dalam sebuah topik  tertentu (Gonzales dalam Jahi, 1993: 92).

Ada berbagai cara untuk mengetahui dan mengerti indikator elemen komunikasi diantaranya: pertama, isi dan sumber informasi indikatornya ditunjukkan dari apa yang diinformasikan dan “siapa” serta “mengapa”  menjadi potential people. Siapa dalam pengertian ini lebih menunjukan tentang gambaran posisi yang bersangkutan pada struktur masyarakat setempat, karena siapa berarti pula mempertanyakan tentang posisi yang bersangkutan. Sedangkan mengapa berarti menggambarkan tentang proses sosial yang ada pada masyarakat itu. Mengapa mengindikasikan bagaimana struktur sosial itu dapat berjalan sesuai fungsinya (proses sosial).  

Kedua, tipologi jenis saluran komunikasi indikatornya dapat dilihat dari jumlah institusi sosial baik formal atau non formal dalam organisasi dan efektifitas fungsionalnya. Ketiga, tipologi khalayak indikatornya  berupa gambaran tentang karakteristik demografi setempat. Setiap kelompok karakteristik demografinya akan  lebih mudah bila dilihat dari sisi tertentu dengan mempertimbangkan status, ekonomi dan sosial (SES). Pada kelompok yang SES-nya tinggi, ada kecenderungan cukup selektif dalam menerima informasi. Tetapi sebaliknya, kelompok yang SES-nya rendah cenderung apatis terhadap informasi. (lagi…)