Menelisik Pencitraan Indonesia (1) 28 Mei, 2008
Posted by rumakom in perspektif praktis, public relations.5 comments
Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda pernah menyatakan ada kaitan erat antara profesi diplomat dengan public relations, pasalnya kegiatan diplomasi bukan sekadar menggambarkan kepentingan nasional belaka, akan tetapi juga harus mengkomunikasikan secara representatif perkembangan di luar dan dalam negeri.
Akan tetapi, saat ini, alat konvensional public relations diantaranya press release, press gathering, ataupun background information sudah tidak mampu menembus hambatan komunikasi yang berkaitan dengan masalah pencitraan Indonesia. Akan tetapi, para praktisi dan konsultan public relations dengan reputasi internasional dan teruji kredibilitasnya secara sederhana menyatakan bahwa upaya membangun citra Indonesia hanya membutuhkan satu hal: niat baik.
Memang idealnya, tanggung jawab membangun citra positif sebuah negara dan bangsa adalah tanggung jawab setiap warga negara. Namun, titik sentral pembentukan citra tetap dipegang oleh pemerintahan (lagi…)
Khalayak dan Rating 18 Mei, 2008
Posted by rumakom in penyiaran, riset, riset khalayak.comments closed
Khalayak adalah sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar, pemirsa berbagai media atau komponen isinya (Dennis Mc Quail, 1989). Secara sederhana bisa dipahami sebagai suatu kelompok yang tidak memiliki struktur dalam arti, tidak memiliki organisasi, bukan bentuk tradisi dan kebiasaan, tidak memiliki perangkat peraturan atau yang bersifat ritual, bukan kelompok yang terorganisir berdasarkan sentimen, tidak memiliki struktur dalam peran sosial dan tidak ada yang memimpin.
Clausse melihat khalayak dari segi jumlah memiliki beberapa kerumitan menyangkut keikutsertaan dan keterlibatan khalayak. Pertama, khalayak yang terbesar adalah populasi yang tersedia untuk menerima tawaran komunikasi tertentu. Dengan demikian, semua pemilik t
Kredibilitas dalam Komunikasi 8 Mei, 2008
Posted by rumakom in perspektif teoritik, riset.Tags: kredibilitas komunikator
6 comments
Konsep kredibilitas menurut Kiousis (dalam Jurnal Mass Communication and Society, Nov.4, 2001) secara umum terbagi dua, yaitu; kredibilitas sumber dan kredibilitas medium. Kredibilitas sumber (source credibility) meliputi konteks-konteks antarpribadi, organisasi, dan media massa, telah terlibat dalam pengkajian mengenai bagaimana ciri-ciri komunikator yang berbeda-beda dapat mempengaruhi pemrosesan pesan (O’ Keefe, 1990).
Komunikator didefinisikan sebagai seorang individu, kelompok atau organisasi. Dalam penelitian tersebut, dampak atribut isi dan pesan pada kredibilitas sumber juga telah dikaji (Charprasert, 1993). Sebaliknya (lagi…)
Kode Etik Profesi APPRI 22 Februari, 2008
Posted by rumakom in perspektif praktis, public relations.5 comments
KODE ETIK PROFESI
ASOSIASI PERUSAHAAN PUBLIC RELATIONS INDONESIA
PASAL 1
Norma norma Perilaku Profesional
Dalam menjalankan kegiatan profesionalnya, seorang anggota wajib menghargai kepentingan umum dan menjaga harga diri setiap anggota masyarakat. Menjadi tanggung jawab pribadinya untuk bersikap adil dan jujur terhadap klien, baik yang mantan maupun yang sekarang, dan terhadap sesama anggota Asosiasi, anggota media komunikasi serta masyarakat luas.
PASAL 2
Penyebarluasan Informasi
Seorang anggota tidak akan menyebarluaskan, secara sengaja dan tidak bertanggung jawab, informasi yang paIsu atau yang menyesatkan, dan sebaliknya justru akan berusaha sekeras mungkin untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Ia berkewajiban untuk menjaga integritas dan ketepatan informasi.
PASAL 3
Media Komunikasi
Seorang anggota tidak akan melaksanakan kegiatan yang dapat merugikan integritas media komunikasi. (lagi…)
PR dan Komunikasi Publik 21 Februari, 2008
Posted by mth in perspektif praktis, public relations.11 comments
Pendekatan public relations menuntut cara-cara penghampiran baru yang bukan hanya lebih komprehensif, melainkan lebih imajinatif terhadap pembentukan opini publik ini. Suatu pendekatan yang mempertimbangkan beragam aspek yang bersinggungan dengan opini, misalnya aspek-aspek pemasaran (marketing dalam arti luas), manajemen, periklanan, komunikasi pribadi, psikologi, antropologi.
Hal ini diperlukan guna menghidari kebingungan atas kenyataan, bahwa suatu opini publik yang positif, tiba-tiba berubah menjadi sebaliknya. Pasalnya saat ini sikap masyarakat cenderung ‘aneh’ ditambhan dengan perilaku media massa yang terwujud dalam model hostile journalism (jurnalisme permusuhan). (lagi…)