jump to navigation

Iklan di Ruang Pribadi Kita 4 Desember, 2007

Posted by rumakom in periklanan.
trackback

Iklan seringkali digunakan sebagai alat produsen untuk melakukan promosi atau mengenalkan keunggulan produknya kepada konsumen. Melalui iklan diharapkan konsumen akan tertarik untuk membelinya. Strategi periklanan yang diambil secara tepat akan semakin berhasilnya pemasaran sebuah produk. Secara sederhana iklan merupakan suatu bentuk usaha untuk membujuk dan memikat perhatian orang lain atas suatu barang atau jasa. Dari sini terlihat bahwa iklan bukan saja suatu hiburan atau seni melainkan sebuah medium informasi.

Salah satu aspek komunikasi dalam beriklan adalah mentransmisikan pesan untuk mendukung aktifitas pemasaran. Dimensi yang paling penting dalam beriklan adalah kemampuan menempatkan produk dalam benak khalayak. Sehingga iklan berperan bagi pembentukan image produk. Dengan demikian baik buruknya iklan tidak hanya ditentukan oleh visualisasi yang bagus saja tetapi juga pesan visual dan naskah pesan yang mampu memberi nilai tambah terhadap produk. Pemasang iklan memanfaatkan  kekuatan  pencitraan terhadap produk atau jasa yang akan dipasarkan dengan perantaraan  media massa.

Setiap hari, dunia periklanan kita dipenuhi sederet artis top yang menjadi model iklan suatu produk. Keberadaan artis dalam iklan ini secara tidak langsung ikut mendongkrak awareness dan menciptakan personalitas dari merek produk yang diiklankan (Cakram, 2001). Dan pada gilirannya, penggunaan artis ini bisa membuat peningkatan dalam penjualan produk yang diiklankan.

Meski  kebenaran  klaim iklan  terletak  pada  bahasa, namun dalam pengamatan YLKI (1998) konflik yang  seringkali muncul  lebih banyak akibat ketidakpuasan  konsumen  karena kurang kritis, sehingga merasa terjebak dan merasa  dirugikan.  Soal pengaruh iklan belum ada penelitian yang  representatif.  Namun berdasarkan pengamatan YLKI  untuk  produk obat-obatan,  hampir 35% konsumen membeli  produk  tertentu karena iklan.

Melalui media massa, penyajian iklan dapat  menghasilkan serta mengedarkan makna-makna yang dikandungnya  kepada masyarakat.  Seringkali makna-makna tersebut lebih  kontroversial dan spektakuler ketimbang kenyataan sebenarnya.
Khalayak  media  sebagai konsumen  potensial  didorong untuk memulai terlibat dengan produk dan tokoh-tokoh komersial  dengan  membayangkan konteks  -arena  fisik,  keadaan emosi, dan situasi sosial sesungguhnya di mana mereka  akan dapat  menggunakan  produk itu. Bayangan situasi  yang  diproyeksikan  ini tertanam dalam struktur nilai yang  melinngkupinya, yang telah dikenal konsumen.

Keberhasilan  iklan bergantung pada proses kimiawi dalam interpretasi  terhadap situasi konsumsi yang mungkin terbayang, yang  berinteraksi dengan struktur nilai yang sudah dikenal dan diterima. Pada akhirnya, mengkonsumsi  suatu  produk  sebagai  produk   berarti mengkonsumsi  maknanya melalui iklan. Hal ini menurut  Baktiono  (1998) berkaitan dengan dua kultur yang dibawa  oleh iklan  yakni budaya tangible atau yang tampak serta  budaya intangible  atau yang tak tampak. Ini tampak  jelas  dengan kenyataan bahwa kerhadiran iklan ditunjang oleh  para  ahli dengan gimmicknya yang diciptakan secara kreatif.
 
[heny/mth]

Komentar»

1. eLDa - 30 April, 2008

menurut rumah komunikasi peran PR dalam strategi periklanan bagaimana??terimakasih,,saya butuh informasi ini untuk mendukung penulisan laporan akhir saya

2. mth - 2 Mei, 2008

Dalam konteks itu ada dua hal, PR bisa masuk menjadi “penjaga imej korporat” dan bisa juga meng-create imej yang bisa mendorong konsumen bisa terlibat secara emosional. Kembali kata kuncinya pada citra/imej organisasi. Semoga bisa membantu

3. E.L.D.A - 4 Juli, 2008

bisa minta tolong adakah contoh yg menspesifikkan sbg “penjaga Image” dan “mengcreate imange”?
iklan yg spti apa??
ucapan selamat hari besar masuk yg create/guard?
terimakasih.mf sy masih sgt kabur dgn periklanan.
jwban dr rmh kom sgt membantu sy.terutama untuk menambah teori sya.

4. andri - 26 Agustus, 2008

saya sedang mengajukan usmas ttg hub endorser dgn brand awarness..menurut penulis teori apa aja yang relevan dengan konteks di atas…terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: