jump to navigation

Pornografi dan Libido Masyarakat 4 Desember, 2007

Posted by rumakom in media massa.
trackback

Maraknya  pengerebekan oleh aparat terhadap peredaran VCD porno yang beriringan dengan gelombang protes aksi menentang pornografi oleh aliansi masyarakat atau mahasiswa dengan latar belakang Islam tampaknya tak mungkin membuat aksi pornografi dapat hilang dari sistem masyarakat kita.  Sekarang ini saja,  masyarakat sedang digelontor pornografi. Di Jawa Timur, banyak sekali beredar media cetak yang mengesankan pornografi meski sedikit. Dari yang berbentuk koran, tabloid, hingga buku saku seperti prahara, tragedi asmara dan sebagainya.

Keberadaan penerbitan itu memang mengandung pornografi, pertama karena gambar yang tidak sesonoh yang terdapat di dalamnya tidak sesuai dengan isinya. Misal cerita orang Surabaya gambarnya orang Mandarin. Kedua, dari segi isi, buku-buku itu eksplisit menggambarkan soal seksual dan gambar vulgar (Media Watch, Maret 2002).

Memahami Media
Media massa, -baik cetak atau elektronika- saat ini telah menjadi konsumsi keseharian masyarakat. Setiap kali ada aktivitas masyarakat tertentu sesuai dengan standar kelayakan muat di sebuah media dapat dipastikan tidak akan lepas dari ruang yang disediakan oleh media massa. Tak heran kalau ada yang menyatakan bahwa media massa adalah cermin realitas sosial.

Sebagai lembaga sosial, media massa memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan mensyaratkan adanya kebebasan dalam bekerja. Tanpa kebebasan seorang wartawan akan sulit dalam menjalankan profesinya, namun kebebasan saja tanpa disertai tanggung jawab akan mudah menjerumuskan wartawan ke dalam praktek jurnalistik yang kotor dan merendahkan harkat dan martabat masyarakat. Menurut teori tanggung jawab sosial, media massa harus mempunyai kebebasan dalam menyampaikan informasi, tetapi tetap  mempunyai tanggung jawab sosial terhadap masyarakat yang menerima informasi tersebut. Teori tanggung jawab sosial harus berusaha menggabungkan tiga prinsip yang agak berbeda; prinsip kebebasan dan pilihan individu; prinsip kebebasan media; dan prinsip kewajiban media terhadap masyarakat (McQuail, 1994: 116).

Sementara sebagai sebuah industri, seperti dinyatakan oleh Dimmick dan Rothenbuhler (Subiakto dalam Cahyana dan Suyanto, 1996: 65), bahwa terdapat tiga sumber utama yang menjadi penunjang kehidupan industri media. Yakni; capital, types of content, dan types of audience. Kompetisi antar pers, pada dasarnya adalah kompetisi memperebutkan ketiga sumber tersebut. Capital yang wujudnya berupa sumber dana, merupakan unsur penentu utama dalam industri media. Sedang type of content adalah isi media yang harus diperebutkan, siapa yang memberitakan lebih cepat dan mampu mengemas dalam bahasa yang menarik dialah yang unggul. Selanjutnya suatu pers harus berusaha memahami tipe khalayak (types of audience), sekaligus menguasainya sebagai pasar. Ketiga unsur ini menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan suatu industri media. Bila salah satu dari sumber utama tidak berfungsi dengan baik, maka hampir bisa dipastikan media tersebut akan mengalami kesulitan dalam pengoperasiannya.

Salah satu sumber utama penunjang kehidupan industri media yang menarik untuk ditelaah adalah type of content. Dengan semakin tingginya tingkat kompetisi di bidang media massa, terutama media massa cetak, para pengelola media akan berlomba-lomba meningkatkan layanan yang memikat—baik dari segi kecepatan informasi yang diekspose maupun segi pengemasan bahasa yang menarik—bagi khalayaknya. Pemikatan tersebut tentunya dengan terkadang sedikit mengabaikan prinsip-prinsip idealnya (Widodo dalam Cahyana dan Suyanto, 1996: 110).

Karenanya tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa dalam menyajkan realitas, masing-masing media massa, dalam hal ini media cetak, cenderung memiliki sudt pandang dan cara penyampaian yang berbeda. Menjadi persoalan kemudian ketika dipertanyakan fungsi media yang tak hanya sekedar menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga mendidik masyarakat—entah itu mendidik menjadi baik atau sebaliknya.

Media dan Libido Masyarakat
Dalam logika penerbitan media massa muncul logika ekonomi penawaran dan permintaan, tampaknya ini juga berlaku pada penebitan media yang berbau pornografi. Secara jelas mungkin masyarakat butuh penyaluran libido dan hasrat dasar untuk kebutuhan seksualnya. Dan ini disambut dengan keberadaan media-media tadi.

Memang saat ini, media seakan menjadi pembaca,  pemakna,  penjelas  dan dalam konteks-konteks  tertentu  menjadi pemutus realitas. Dalam  konteks  yang demikian, tak pelak  lagi  segala logika  di balik media massa niscaya menjadi  sesuatu  yang sangat  penting.  Media massa menjadi pusat  wacana,  pusat persoalan dan pusat penentu nilai, gambaran, kebiasaan  dan kemungkinan. Ringkasnya media massa menjadi pusat kuasa.

Sejumlah  perangkat ideologi diangkat  dan  diperkukuh oleh  media  massa, diberikan legitimasi  oleh  mereka  dan didistribusikan  secara persuasif, sering  dengan  menyolok kepada khalayak yang besar jumlahnya. Dalam  proses  itu wacana yang terpilih  memperoleh  arti  penting  secara  terus  menerus meningkat,  dengan memperkuat makna semula mereka dan  memperluas dampak sosialnya dan jika berhasil,  akan mendorong penerimaan khayalak dan distribusi dominan.

Ketika  media massa mempunyai kuasa  dengan  teknik  representasi ideologinya sendiri. Dan  juga  ketika masyarakat  mempunyai logika realitasnya sendiri; walhasil,  semakin  banyak informasi  yang  berkembang tidak  dibarengi dengan cara menyaring  informasi  penting, timbulkan kegelisahan dalam masyarakat (lihat Sommerville, 2000).

Keniscayaan Industrialisasi Pers
Menurut  Lull  (1997: 2),  manipulasi  yang  dilakukan tanpa  henti terhadap informasi dan image publik  membentuk suatu  ideologi dominan yang kuat yang membantiu  mendukung kepentingan material dan budaya para penciptanya. Para  pembuat  ideologi dominan  menjadi  suatu  “elit informasi”. Kekuasaan atau dominasi mereka berasal langsung dari  kemampuan mereka untuk mengedarkan kepada  masyarakat sistem idea yang mereka sukai. Karena itu. ideologi mempunyai kekuatan apabila dilambangkan dan dikomunikasikan.

Ideologi  hanya  dapat dipahami dengan  tepat  sebagai ideologi dominan dimana bentuk-bentuk simbolik dipakai oleh mereka yang memiliki kekuasaan untuk “membangun dan  mengukuhkan hubungan dominasi”.  Kelompok  elit  sosial-ekonomi-politik  dapat  membuat jenuh masyarakat dengan agenda ideologi yang mereka  miliki karena  mereka  menguasai institusi-institusi  yang  menyalurkan  bentuk-bentuk  simbolik dari  komunikasi,  termasuk media massa.

Industrialisasi yang mendorong proses mobilitas  semacam  ini telah menyebabkan berubahnya orientasi ruang  yang menyebabkan  komunalisme  lama  dengan  berbagai  perangkat institusionalnya mulai dipertanyakan keabsahannya. Berbagai  praktek  sosial baru  yang  terbentuk,  yang sesuai dengan atau dijiwai dengan semangat  industrialisasi kemudian  mendapat pengesahan sosial. Ruang  sosio-kultural kemudian  menjadi suatu ruang dengan daya paksa yang  lemah dimana penegasan keberadaan nilai bersumber dari pusat yang berbeda.

Walhasil, persoalan pornografi tidak pernah berhenti. Perdebatan itu sampai kini terus berlanjut bahkan menimbulkan kontroversi. Hal itu diantaranya tiadanya definisi yang dapat disepakati. Beberapa kasus tentang pornografi jarang sekali sampai di pengadilan. Seolah-olah masalah pornografi sepertinya tidak terjamah oleh hukum atau untouchable.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: