jump to navigation

Sebutan “Indonesia” yang Menyejukkan 23 Mei, 2011

Posted by mth in perspektif teoritik.
Tags:
trackback

Oleh: Leila Mona Ganiem

Orang-orang awam di Kuala Lumpur, Melaka dan Johor Bahru pada umumnya menyebut kita “Indon”. Di Johor Bahru, ada pelayan toko menyapa saya cik “Indon” dengan logat Jawa. Dengan jengkel dan suara agak membentak saya menjawab, “Hei, aku Indonesia, bukan Indon! Kamu orang Jawa, kan?” demikian kalimat yang ditulis disebuah situs jejaring sosial oleh seorang profesor yang baru pulang dari Malaysia.

“Indon” adalah potongan kata yang ditujukan untuk memanggil orang Indonesia di kalangan warga Malaysia. Dalam beberapa penelusuran, saya temukan konon dilekatkan dengan konotasi pelecehan, diartikan mirip “Preman”. Bahkan kadang digunakan sebagai teguran terhadap sikap buruk seseorang, misalnya ìMau jadi apa kamu nanti? Mau jadi indon?

Berbagai reaksi bermunculan atas status tersebut, hampir mencapai 100 tanggapan. Umumnya mengecam pelayan toko yang “sok Malaysian” itu, karena bersikap melecehkan anak bangsa sendiri. Ada juga reaksi yang mendoakan agar sang pelayan sadar akan jati dirinya.

Namun, ada hal mendasar yang kurang dielaborasi dari tanggapan yang ada, “Apakah motivasi sang pelayan memilih menggunakan kata “Indon”?”

Dalam teori akomodasi komunikasi (Howard Giles, 1973), seseorang mengakomodasi perilaku orang lain, dapat ditujukan agar dirinya diterima atau disukai oleh orang yang ditujunya. Pilihan lain adalah bersikap berlawanan dengan orang yang diajak berkomunikasi. Motif dari tindakan tersebut, tentunya berkonsekuensi.

Beberapa alternatif yang mungkin terjadi adalah sang pelayan ingin mengambil hati majikannya yang berkebangsaan Malaysia dengan memposisikan diri berpihak pada mereka, tujuannya untuk menghindari jarak sosial yang terlalu jauh. Mungkin juga kejenuhan diperlakukan bagai “preman”, membuatnya bersikap demikian. Kemungkinan lain adalah sang pelayan tidak tahu arti tersembunyi dari “Indon”. Sungguh semua sisi yang saya pikirkan, menemukan konteks “mengharukan”.

Situasi yang sama pernah saya alami ketika berdiskusi dengan Ani, seorang sahabat, yang semula WNI, menjadi warga negara Malaysia. Berbagai kehangatan diskusi diantara kami berubah menjadi kegemasan yang menoreh rasa nasionalisme saya ketika Ani mengurai betapa buruknya perilaku orang Indonesia di Malaysia. Saya mengajukan dua analisa:

Pertama, sebagai seorang pekerja migran, yang dalam posisi struktur sosial lemah, perasaan menitipkan diri agar diterima atasan, cenderung akan muncul. Tenaga kerja akan berusaha patuh dan menyenangkan atasannya. Jikapun ada tindakan penyimpangan, saya rasa perlu dicek lebih cermat apakah tindakan tersebut masuk kategori pembelaan kemarahan atau murni kejahatan.

Kedua, dari hubungan antara orang tua-anak, murid-guru, hingga atasan-bawahan, budaya Malaysia (dan Slovakia) memiliki jarak paling tinggi dibandingkan dengan 74 negara lain yang diriset oleh Hofstede (2003). Pada negara berjarak kekuasaan tinggi, atasan merasa sangat superior dibandingkan bawahan, dan ekspresi tersebut juga tercermin dalam emosi yang menunjukkan perbedaan status. Hubungan antara anak-anak disebuah keluarga, juga berhierarki. Anak yang lebih besar biasanya memiliki kekuasaan lebih besar pada adik-adiknya. Pola ini dilestarikan oleh keluarga, sekolah, tempat kerja dan masyarakat pada umumnya.

Masyarakat dalam jarak kekuasaan rendah (Austria, Denmark, Jerman, Swiss) akan menunjukkan emosi yang meminimalkan perbedaan status. Indonesia, menempati peringkat ke 16. Meski sering kita rasakan, atasan orang Indonesia kerap bergaya bossy pada bawahannya, bisa dibayangkan bagaimana pola hubungan atasan-bawahan di Malaysia yang menempati peringkat satu?

Menurut Clifford Geertz, manusia adalah hewan yang terkurung oleh jaring-jaring makna yang dirajutnya sendiri. Jaring-jaring tersebut berisi budaya, dan merupakan software otak manusia. Barangkali itulah alasan mengapa seseorang berperilaku meninggikan atau merendahkan diri dan orang lain. Barangkali kita juga layak berempati pada orang Malaysia, karena budaya telah mengukungnya sehingga mungkin secara tidak sadar dia sulit keluar dari aturan yang mengendalikan perilaku dirinya. Jika pilihan kata tersebut menyakitkan saudara serumpunnya, mengapa tidak memilih menyelesaikan kata secara lengkap dengan menyebut “Indonesia”. Bukankah itu lebih menyejukkan? Pendidikan memang salah satu tangga sosial budaya yang penting untuk memanusiakan manusia.

Komentar»

1. sikill - 22 Juli, 2012

mudah2n si PELAYAN tsb tdk trllu mmbanggakn negri org..aku jg ex malaysia tp msh ttp CINTA TANAH AIR


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: