jump to navigation

Menanti Era Baru Politik Santun 12 Desember, 2013

Posted by rumakom in perspektif praktis, sejarah.
trackback

Pencitraan politik, kini memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pentas politik di tanah air. Citra politik seseorang dapat diciptakan, dibangun dan diperkuat melalui proses kognitif dan afektif.  Semua kegiatannya tentu saja tak berlepas dari media massa.

Salah satu bentuk pencitraan yang dilakukan oleh para elit politik adalah “Politik Santun”. Pendekatan itu sangat besar pengaruhnya  di tengaj budaya Indonesia yang mengunggulkan cita rasa tinggi (high-context culture). Sebenarnya, politik santun telah lama menjadi bagian dinamika kehidupan perpolitikan di tanah air.

Socrates menyebutkan bahwa politik adalah kesantunan. Politik adalah martabat dan harga diri sehingga dalam berpolitik seseorang harus memiliki keutamaan moral. Prakteknya, politik adalah ilmu dan seni yang berorientasi pada upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Jadi, manakala kepentingan masyarakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat terabaikan maka sesungguhnya hal ini telah menodai politik itu sendiri.

Politik santun dan kesantunan berpolitik bukanlah sekedar wacana. Hal itu bisa diwujudkan dengan modalsebuah dorongan dan tekad bulat mempraktekkan politik yang bermoral dan santun dalam bingkai kesungguhan hati, kejernihan berpikir serta keberanian untuk memulai.

Kemunculannya menjadi pemicu keterpesonaan publik ketika pasca reformasi yang telah melahirkan dan mengakomodasi kebebasan berorganisasi dan menyatakan pendapat membuat suasana cenderung anarkis. Apalagi kian hari ada kecenderungan bahwa  kedewasaan berpolitik belum sepenuhnya terwujud. Buktinya  reformasi semestinya menjadi garansi lahirnya politisi-politisi yang matang karena kran politik tidak lagi tersumbat sebagaimana yang terjadi pada masa Orde Baru ternyata hanya menunjukkan pergantian elit tanpa perubahan perilaku.

Apa yang dapat dicontoh oleh masyarakat jika elit politiknya sibuk “berkelahi” meributkan hal-hal yang tidak krusial. Apa pula yang dapat dibanggakan oleh masyarakat terhadap elit politiknya yang tidak memiliki rasa peduli atau empati atas keadaan masyarakat. Alih-alih mengurus masyarakat, elit politik justru asyik “bermain-main” memanfaatkan jurus aji mumpung yang dimilikinya.

Andai saja, Socrates masih ada tentu ia akan menjadi orang yang paling sibuk. Sebab, tentu ia akan disibukkan dengan aktivitas mengajarkan kepada para politisi bagaimana cara berpolitik yang santun dan santun berpolitik. Atau, seandainya Socrates masih ada kira-kira apa yang akan ia lakukan ketika melihat banyak elit politik yang tidak santun dalam berpolitik.

Budaya politik santun yang sudah terbentuk dan dilaksanakan secara konsisten akan menciptakan citra positif politisi. Bukan bentukan sesaat dan penuh kepura-puraan.

Bahan Bacaan :

Firmansyah, 2007, Marketing Politik, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Ludlow , Ron dan Fergus Panton, 1996, The Essence Of Effective Communications, Yogyakarta : Andi

Venus, Antar, 2004.  Manajemen Kampanye : Panduan Teoritis dan Praktis dalam Mengefektifkan Kampanye Komunikasi, Bandung : Simbiosa Rekatama Media.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: